Tampilkan postingan dengan label Eiger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eiger. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2012

OVERLAND FLORES #Day3 : Sekejap Saja di Rincha!

Tabuh pukul 3 pagi, hap..haap… baru tidur 2jam langsung diajak bertempur berburu sunrise. Jurus andalan oles mata pake air dan langsung melangkah menuju puncak bukit sebelah timur pulau Rincha. Dari pos TN kurang lebih 1,5jam saja dengan berjalan santai. Pukul 5 langit sudah remang-remang dan terlihat indahnya ciptaan Tuhan berupa dataran dipenuhi rumput-rumput dan tanaman-tanaman perintis. Struktur tanah berupa karang-karang laut. Dan haapp, matahari nongol dengan sukses walaupun tertutup mendung…yeaahhh.



bersama guide nunggu sunrise

Sudah puas menikmati surise, kami segera menuju tempat si Komo, eehh si Komodo makan. Tersedia seonggok kerbau yang bersedia mengorbankan diri untuk dimakan si Komodo. Detik demi detik si komodo belum nongol, mungkin bangun kesiangan kali yaa…heheheee. Yasudahlah, kami berjalan lagi sambil mengabadikan pemandangan sekitar kita, dengan tidak lupa membawa Toya Sakti berbentuk “Y” yang siap menghalau komodo yang menyerbu, hehehe
 Kerbau Kurban,hehehe

 Anak Komodo Berlindung

 Forest on the Reef

 Salah satu Wisman yang sedang Trekking

Pemandangan Pos Loh Buaya dari Atas Bukit

Kami kembali ke Pos untuk bersiap kembali ke pelabuhan Bajo. Terlihat juga rombogan wisman yang baru datang. Dari pos terlihat anak-anak komodo yang memanjat pohon dan atap-atap rumah karena bahaya jika mereka didaratan. Komodo besar akan memakan komodo yang masih anak-anak, walaupun itu anaknya sendiri disantap juga, sadiiiissss.

 Pos Loh Buaya


 Si Komodo





 Wisman sedang diberi Pengarahan

Tugu Selamat Datang

Saya dan Onggo segera menuju ke kapal nelayan yang membawa kayu untuk proyek Tugu Selamat datang dari sponsor Tel***Slet..hehehe. Dari Pulau Rincha kami menyeberang gratisan bersama kapal ini sambil melihat pemandangan yang luar biasa indah Kapal-kapal wisatawan sudah memenuhi lautan Komodo ini. Andai punya waktu banyak, pastikanlah dive disini karena kata diver mancanegara, laut Komodo bagusnya setelah Raja Ampat, Wakatobi. Trus kalo Alor itu setelah Komodo, yeeaahh… Kita mau kesana juga *dalam hati sih*.
 Pintu Masuk Loh Buaya

 Terumbunya nongol

 Kapal Wisatawan

Pukul 10:00 kami sudah sampai di Labuan Bajo dan siap menuju Ende dengan Travel. Tarif travel Rp 180.000 meuju Ende yang akan ditempuh 12jam perjalan, dan transit di Ruteng untuk berganti armada. Perjalanan juga diselingi dengan makan siang di sebuah desa ditengah “pedalaman” yang saya sendiri lupa namanya, hehehee. Lumayan untuk selonjorin kaki.  Tepat pukul 23:00 waktu Ende kami sampai di Kantor Taman Nasional Kelimutu dan istirahat disana. ZZzzzztttt… (bersambung)

PT. Eigerindo Multi Produk Industri
Eiger Adventure Store (EAS)
Jln. Teuku Umar No.92, Denpasar


OVERLAND FLORES #Day2 : Selamat Datang di Salah Satu Warisan Purbakala Dunia!



Pukul 04:30, bus dari terminal Bima menuju pelabuhan Sape mulai berjalan. Perjalanan ditempuh kurang lebih dalam 2 jam pejalanan. Sebelumnya harap-harap cemas jika bus ini tidak bisa sampai tepat waktu ke pelabuhan Sape. Kapal penyeberangan Sape hanya beroperasi 2 kali sehari. Saya berharap mendapatkan kapal yang pagi agar nantinya sampai di Labuan Bajo tidak malam hari.
 Pelabuhan Sape - Labuan Bajo

Sekitar pukul 07:30 waktu setempat, saya sudah sampai di pelabuhan Sape dan segera mengantre di loket pembelian tiket. Anehnya sampai jam 08:30 loket tiket tak kunjung buka, padahal pukul 09:00 kapal sudah berangkat. Hati ini rasanya sudah tidak tenang lagi. Jika saat itu juga saya tidak berangkat, mau tidur dimana aku ini, hehehe. Menurut keterangan warga setempat, memang banyak penginapan murah antara Rp 40.000 sampai 100.000 per malamnya. Yaa dalam hati tetap berharap loket ini segera buka, dan yaappp… sang petugas pun datang dengan wajah masih ngantuknya pukul 08:45waktu setempat. Setelah membeli tiket, saya segera berlari menuju kapal penyeberangan yang sudah standby, dan saya segera menuju kursi penumpang. 
 Kapal Penyeberangan Sape-Bajo

Kapal ini memang seperti dipersiapkan untuk wisatawan atau backpackers yang mau menyeberang ke Labuan bajo. Fasilitas yang ada menunjang para penumpang untuk bias bersantai dengan nyaman dikapal ini. Bagaimana tidak, paling cepat kapal ini menyeberang selama 8jam di laut. Wiiih, tahu sendiri kan rasanya galauu abiiss. 
 Suasana di Kapal
Kebetulan juga disamping saya duduk ada wisatawan dari Perancis. Saya sedikit banyak ngobrol dengan bahasa inggris sedapet otak ini nangkep.hehehe. Salutnya buat saya adalah, mereka merayakan 40tahun pernikahan berdua keliling Bali, NTB, NTT… wahhh, saingan dah kita. Hahahaha. Mereka  merayakan tepat 40tahun pernikahan di Pulau Moyo NTB. Salah satu destinasi yang belum sempat saya kunjungi juga.
Berjam-jam dilaut membuat sedikit merasa bosan, saya melihat sekeliling ruangan penumpang dan sedikit terkejut dengan sapaan yang memanggil nama saya. Bengong dan bingung ternyata teman kuliah yang sama-sama sedang menuju Labuhan Bajo. Seketika juga saya berdiri dari kursi yang saya tempati dan menuju dag kapal bersama mereka.
Terlihat Pulau komodo dari Kapal



Beragam Kapal Sewa

Dibagian dag kapal, ternyata lebih seru karena angin sepoi-sepoi yang bias bikin mata segera terpejam. Sesekali kita ngobrol dan berbagi cerita perjalanan. Teman-teman saya menghabiskan waktu setelah KKN untuk berlibur di Pulau Komodo juga.
Pukul 16:30 dari bagian dag kapal sudah terlihat Labuan Bajo yang sangat indah. Seperti melihat pelabuhan di luar negeri. Kapal-kapal wisata yang banyak bertebaran disekitar pelabuhan. Wisatawan mancanegara yang juga memenuhi spot-spot dive dan sorklingnya.Saya juga disambut oleh Gigih teman kuliah Onggo yang bekerja di Sektor Pulau Komodo Taman Nasional Komodo juga. Saat itu juga saya berpisah dengan teman kuliah saya untuk segera menuju rumah bapak Oman, Ketua Sektor Pulau Rincha Taman Nasional Komodo.
Foto sebentar di Bajo
Segera setelah saya mandi dan makan di warung kaki lima di sekitar pelabuhan Labuan Bajo. Disini saya memilih sendiri ikan yang akan saya makan, jangan lupa nawar lho.. Akhirnya ikan yang cukup besar saya pilih dan saya tawar sampai harga 20.000 perpaketnya (+nasi dan estehnya).Makanlah kita dengan cerita-cerita tentang Taman Nasional Komodo dan pemerintahannya. Wiiih, ribet juga ternyata, hehehe. 

 
 Labuan Bajo di Senja Hari

Menu Pertama di Labuan Bajo

Setelah makanan ludes dilalap sijago makan, segera kita kembali kerumah Bpk Oman. Malam pukul 22:00, saya diajak pak Oman menuju Pulau Rincha untuk Patroli, dan kami segera Packing sekalian karena rencana hari berikutnya kami segera meluncur ke Ende.
 Kapal Siap Tempur
Pelabuhan ini dimalam hari sangat indah dengan hiasan lampu-lampu rumah dan penginapan yang ada di sekitar bukit. Setelah menempuh 2jam dengan kapal nelayan, saya menuju Pos Pulau Rincha sambil beristirahat. Jadilah kami lomba ngorok beregu putra, ditemani komodo-komodo yang berada dibawah tempat kami tidur..wiiiii (bersambung)

PT. Eigerindo Multi Produk Industri
Eiger Adventure Store (EAS)
Jln. Teuku Umar No.92 Denpasar

Great Overland Flores 2012

 Lama sudah tidak mengupdate blog, maklum banyak hal yang harus dilakukan. Sambil mengisi waktu luang, saya mau berbagi cerita tentang perjalanan saya Overland Flores. Salah satu dari impian perjalanan saya. Banyak temen kerja yang bertanya, Kenapa FLORES? Kenapa tidak ke luar negeri aja kan keren tu? Hohoho jawabku,”Indonesia aja belum selesai kok, betul ngga?hehehe”


Perjalan saya lakukan dalam 12 hari dan ditemani partner tulen saya Simon Onggo. Dia kebetulan juga bekerja di Taman Nasional Wanggameti, Waingapu, Sumba. Onggo, panggilan teman saya ini kebetulan sehobi jalan-jalan irit, atau kerennya sih backpacker.
Awal cerita saya bekerja di Bali dan saya di akhir bulan juli 2012 belum punya gambaran akan libur berapa hari dari kantor dan akan kemana. Kurang dari sebulan munculah wall di Facebook dari teman saya. “Overland NTT yuukk”. Wadeeh, langsung aja dah aku telpon tu Onggo. Aku meminta perkiraan anggaran dan jadwal perjalanannya dengan segala kemungkinan yang terjadi.  Setelah berkomunikasi dan bertukar pendapat dan informasi kami putuskan untuk bertemu di tikum Labuan Bajo tanggal 12 Agustus 2012.
Ada banyak pilihan transportasi dari Denpasar menuju Labuan Bajo. Pilihan paling murah adalah kapal PELNI dengan tarif Rp 198.000,- (Agt2012) perjalanan ditempuh 36jam diatas kapal dari Tanjung Benoa sampai Labuan Bajo. Kelemahannya adalah, jadwal kapal yang hanya ada sebulan 2 kali jadi saya tidak mengambil opsi kapal Pelni ini.
Alternatif kedua adalah dengan pesawat NgurahRai-LabuanBajo. Banyak pilihan maskapai yang melayani penerbangan setiap hari menuju Labuan Bajo dari Bandara Ngurah Rai. Wings, Susi Air, Merpati, Aviastar, dan lainnya. Tarif dihari-hari normal sekitar Rp 450.000-700.000. Namun kalau dimasa liburan atau libur lebaran tarif bisa menjadi diatas Rp 1.000.000,-
Alternatif ketiga yang saya pakai adalah bus patas yang pada masa lebaran cukup mahal dan susah dicari. Safari Dharma Raya, Tiara Mas, Garuda Mas, adalah beberapa perusahaan otobus yang  melayani perjalanan menuju Bima. Cerita lengkap perjalanan, ikuti aja diposting lanjutnya yaa.
Buku Panduan Trip NTT

Kamis, 02 Agustus 2012

Pendakian Gunung Batur - Bali

Entah ada angin apa, teman kantor saya Widya tiba-tiba kasih info kalau ada acara pendakian ke gunung Batur. Tanpa menghitung kancing baju untuk jawab ya atau tidak, aku langsung jawab Ya. Hampir tanpa persiapan dan peralatan, hanya bermodalkan sleepingbag pinjaman dan tas kesayangan. Baru iseng-iseng mengajak teman-teman lain, ternyata respon untuk ikut besar. Akhirnya kami berangkat berenam dari kelompok Pronasindo. Adi Dewa, Gaguk, Widya, Farid, dan Reza.

Gunung Batur

Gunung Batur merupakan salah satu gunung berapi aktif yang ada dipulau Bali. Terletak di kabupaten Bangli, 63 kilometer dari kota denpasar.Gunung Batur merupakan tujuan wisata populer di Bali. Dikaki gunung terdapat Danau Batur, desa Trunyan, dan pura Ulun Danu Batur.

Sabtu siang teman-teman memutuskan untuk berkumpul di kost saya. Saat itu, kami berlima menjemput teman kami Widya dirumahnya. Setelah menjemput Widya, kami langsung menuju tikum teman-temannya Widya yang lain. Ternyata rombongan membengkak menjadi 26 orang, dahsyaaat.

Pukul 20:00wita, rombongan segera berangkat menuju pos pemberangkatan di desa Kintamani. Perjalanan ditempuh kurang lebih 1,5jam dari kota Denpasar. Sebelum sampai di Pos, kami melaporkan kegiatan kami ke Polsek terdekat. Tanpa berlama-lama, langsung saja kami menuju pos pemberangkatan.

Saat Ditempat Start

Sesampainya di pos pemberangkatan, teman-teman yang beragama Hindu Bali menyempatkan untuk bedoa di Pura terdekat. Sambil menunggu, kami sempatkan tidur karena kebetulan siangnya kami ada kegiatan fulsal. Setelah teman-teman selesai sembahyang, semua dikumpulkan untuk briefing.

Jam 21:50 kami memulai pendakian, dengan estimasi akan sampai dipuncak kurang lebih 2 jam. Saat berjalan 15 menit, kami berhenti untuk sembahyang di pura desa yang kami lewati. Setelah dari pura desa yang pertama, kami berjalan lagi sekitar 200 meter terdapat pura yang lain. Dipura yang kedua ini kami berhenti untuk memberi kesempatan teman-teman untuk bersembahyang. Setelah itu kami menyusuri hutan pinus dan jalan yang kami lalui masih beraspal. Belum lagi 15 menit kami berhenti di pura jalan masuk pendakian Gunung Batur dan bersembahyang lagi.

Istirahat Dulu

Setelah selesai bersembahyang di pura ketiga, kami melanjutkan perjalanan. Jalan mulai menjadi jalan setapak dan kiri kami sungai kering yang dalam. Kami sempat berhenti sejenak di sebuah warung, yang ternyata pemiliknya juga tinggal disitu. Sungguh aneh tapi nyata, warung tersebut hanya satu-satunya dihutan tersebut. Berasa balapan F1 pake pitstop, kami beli minuman secukupnya. Pendakian belum seberapa, tapi kami terlalu banyak berhenti yang bikin kaki gemeteran juga, hahaha.

Usai pitstop kami langsung cuss lanjut pendakian. Jalan mulai menanjak dan terjal. Kami masih berada di wilayah vegetasi, tapi pemandangan malam itu sangat indah. Lampu-lampu rumah desa Kintamani membentuk lingkaran mengelilingin danau Batur yang saat malam tidak terlihat.

Saya dan Reza

Saya dan Reza berada di belakang bersama Bro Sam. Bro Sam itu temennya temennya temennya Widya (nah to ribeet..). Kami bertiga sering berhenti untuk menunggu rombongan yang kelelahan, rasanya kaki ini udah gemeteran. Dari yang bawa muatan berlebihan tapi tidak memperhitungkan kemampuan dirinya sendiri.

Jam menunjukan pukul 00:30 kami mulai melewati tanjakan berbatu. Batas vegetasi pinus sudah terlewati, dan amazing pemandangan dari posisi kami ini. Langit cerah bersahabat dengan bintang yang bersinar. Disaat kami nertiga menemani salah satu rombongan yang kelelahan, sms berdering "Mas broo, udah nyampe ni di camp ground, dimana dirimu?". Dengan nada dongkol ya aku jawab aja "Masih nggendong beras ke puncak nii..tunggu yaa"

Setelah 40 menit kami bertiga dan 2 orang temennya temennya Widya sampai di sebuah gubuk, yang sepertinya menjadi sebuah tempat berdagang disiang hari. Sangat aneh memang, sempat berpikir kalo ini yang jualan naik pake eskalator sebelah mana. Malam itu kita mendirikan tenda sambil minum kopi panas, mantap rasanya kami bercerita dan berbagi pengalaman disana. Namun malam itu, team Pronasindo tertidur dengan sleepingbag beratapkan langit malam.

Pukul 04:00 saya dibangunkan bro Sam dan langsung ngajak Sunrise di puncak. Langsung bangun, cuci muka biar nampak sedikit bercahaya kalau berfoto. Kurang lebih 15 menit kami mendaki lagi. Jalan yang kami lalui berupa pasir dan kerikil. Agak susah memang, karena pasir yang kami injak selalu longsor.

Kabut Tebal

Saat sampai dipuncak, keadaan masih gelap. Kami sempat bernyanyi sambil dengan intonasi menggigil. Suhu saat itu kurang lebih 10derajat celcius. Beberapa rombongan turis asing mulai berdatangan. Semua pengunjung menghadap kearah timur menanti cayaha matahari muncul. Langit mulai terang, akan tetapi kabut tebal malah menyerbu dan mengurangi jarak pandang kami. Cahaya matahari mulai muncul, tetapi kami tidak bisa mengabadikan dengan sempurna karena ulah kabut.

 Matahari Pagi Batur


Dinginnya Mantaap


Pemandangan dari lokasi kami berada sangat indah, terlihat danau Batur yang membiru dihiasi gunung Abangan. Di sebelah tenggara kita dapat melihat gunung Agung, gunung tertinggi dan masih aktif.

Gunung Agung disisi Tenggara

Pukul 08:00 kami turun ke campground dengan susah payah karena pasir. Sesampainya di campground, kami langsung mempacking peralatan kami sambil berfoto dikawah yang ternyata sangat indah. Turis-turis asing juga ikut berfoto di kawah ini.

Camp Ground


Kawah Gunung Batur

Saat matahari sudah tinggi, kami tim Pronasindo memutuskan turun gunung lebih dahulu dari rombongan lain. Sekitar pukul 09:00 kami langsung turun dan tak henti-hentinya kami kagum dengan pemandangan dari atas gunung Batur ini. Pukul 10:40 kami sudah sampai di pos pemberangkatan, dan langsung memesan mie rebus telor pedas.

 Danau Batur dan Gunung Abangan

Mantap dan puas rasanya, dan ini juga pengalaman pertama Reza, Gaguk, Dewa, dan Farid. Mereka mengaku ketagihan dengan kegiatan pendakian seperti ini.Ya, alam selalu memuaskan hati semua yang menikmatinya.

 Gunung Batur, 2-3 Juni 2012 
PT. Eigerindo Multi Produk Industri
Eiger Adventure Store (EAS)
Jln. Teuku Umar No.92, Denpasar